Semarang, 9 Juli 2025 — Setiap aktivitas harian seperti berkendara, menggunakan listrik, atau bepergian dengan pesawat secara tidak langsung berkontribusi terhadap emisi karbon yang mempercepat krisis iklim. Menjawab tantangan ini, LindungiHutan mengajak masyarakat untuk lebih sadar akan jejak karbon mereka, sekaligus menawarkannya solusi nyata melalui program carbon offset berbasis penanaman pohon.
LindungiHutan, sebuah platform penggalangan dana lingkungan berbasis digital, mengembangkan fitur carbon offset yang memungkinkan individu maupun organisasi menghitung dan mengimbangi emisi karbon melalui penanaman pohon. Program ini menjadi salah satu upaya mendorong keterlibatan publik dalam aksi iklim, dengan pendekatan yang mudah dijangkau dan berdampak langsung.
“Kami ingin mendorong kesadaran bahwa perubahan iklim bukan isu besar yang jauh dari kita. Jejak karbon bisa datang dari hal-hal sederhana, dan carbon offset adalah langkah awal untuk bertanggung jawab secara ekologis,” ungkap Alma, Product Manager LindungiHutan.
Menurut laporan Climate Transparency Report 2023, Indonesia menghasilkan lebih dari 600 juta ton emisi CO₂ per tahun. Dalam skala individu, satu kali perjalanan Jakarta–Bali dengan pesawat dapat menghasilkan lebih dari 250 kg CO₂ per orang. Di tengah tantangan ini, carbon offset hadir bukan sebagai pengganti perubahan gaya hidup, tapi sebagai pelengkap aksi mitigasi.
Fitur carbon offset LindungiHutan menggunakan kalkulasi berbasis standar emisi global dan menyarankan jumlah pohon yang ideal untuk menyerap emisi tertentu. Setiap pohon yang ditanam diproyeksikan menyerap rata-rata 4,6 kg CO₂ per tahun, dan perawatannya dilakukan oleh komunitas lokal di area hutan seperti Pesisir Bedono, Demak, Way Kambas Lampung, dan lokasi lainnya di seluruh Indonesia
Selain memberikan manfaat ekologis berupa penyerapan karbon, pohon-pohon ini juga memiliki dampak jangka panjang terhadap restorasi ekosistem, perlindungan keanekaragaman hayati, hingga ketahanan pesisir. Di sisi sosial, LindungiHutan memberdayakan komunitas lokal untuk menyediakan bibit, melakukan penanaman, dan merawat pohon selama masa hidupnya.
“Setiap pohon yang ditanam bukan hanya menyerap karbon, tapi juga menyerap harapan masyarakat lokal akan masa depan yang lebih baik,” tambah Edi, penggerak LindungiHutan dari Pulau Pari.
Selain fungsi ekologisnya dalam menyerap karbon dan memulihkan ekosistem, penanaman pohon juga melibatkan masyarakat lokal dalam proses pembibitan, penanaman, dan pemeliharaan. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya memberikan dampak lingkungan, tetapi juga mendukung aspek sosial dan ekonomi di tingkat komunitas.
Seiring meningkatnya urgensi krisis iklim, pendekatan seperti carbon offset berbasis alam dinilai tetap relevan sebagai bagian dari upaya transisi menuju kehidupan yang lebih berkelanjutan. Penting bagi masyarakat untuk tidak hanya memahami konsep emisi karbon, tetapi juga memiliki akses ke bentuk partisipasi yang konkret dan terukur.
You may also like
-
DJKA dan LRT Jabodebek Periksa Kesiapan Fasilitas Sarana & Prasarana Jelang Angkutan Nataru 2026/2027
-
Selamat Hari Raya Deepavali dari Sanct Social: Episode 9 Pertemukan Dua Ibu yang Belum Pernah Bertemu dalam Satu Percakapan, Sekaligus Panduan Fitur Baru Versi 1.2
-
Tips agar Pembalut Tidak Bergeser Saat Tidur Semalaman
-
Transaksi Derivatif Aset Keuangan Digital di Indonesia Tumbuh, Bittime Soroti Perkembangan Pasar
-
Bukan Hanya Merek, Ini Faktor yang Memengaruhi Nilai Gadai Jam Tangan Mewah
DJKA dan LRT Jabodebek Periksa Kesiapan Fasilitas Sarana & Prasarana Jelang Angkutan Nataru 2026/2027
Sanct Social sets its ninth short film in a Johor Bahru home on Deepavali eve and uses it to teach four new features: Sancty’s schedule, community guest links, sleep music and Re-live
Happy Deepavali from Sanct Social: the app’s ninth short film brings two mothers who have never met into one chat, and shows what is new in version 1.2