Arus Logistik Jelang Lebaran Meningkat, Pelindo Antisipasi Kepadatan di Pelabuhan

Arus logistik nasional menunjukkan tren peningkatan menjelang Lebaran 2026. Pelaku usaha logistik serta Subholding Pelindo Terminal Petikemas (SPTP) mulai menerapkan strategi khusus untuk memastikan arus logistik tetap lancar.

SURABAYA
(05/03) –
Arus
logistik nasional
menunjukkan tren peningkatan menjelang Lebaran 2026. Pelaku
usaha logistik mulai menerapkan strategi khusus untuk memastikan arus logistik
tetap lancar.

Peningkatan
arus logistik jelang Lebaran di antaranya terjadi di wilayah Jawa Tengah dan
Jawa Timur. Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI/ILFA) Jawa
Tengah-DIY, Teguh Arif Handoko, menyebutkan volume kargo naik sekitar 130
persen.

Di
Pelabuhan Tanjung Emas, kenaikan kargo membuat rotasi kontainer yang biasanya
rata-rata sekitar 2.800 unit per hari meningkat menjadi 3.000 unit per hari.
Selain momentum Lebaran, ALFI Jateng menyoroti tren pertumbuhan aktivitas
logistik juga didongkrak banyaknya investasi industri di Jawa Tengah, seperti
di Kawasan Industri Kendal (KIK) dan Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB)
mendorong peningkatan throughput di Pelabuhan Tanjung Emas.

“Tahun
2023 sekitar 700.000 TEUs, 2024 naik 800.000 TEUs, dan 2025 sudah tembus 1 juta
TEUs. Ini signifikan, walaupun perusahaan di kawasan industri KIK dan KITB baru
sekitar 20 persen yang sudah produksi dan operasi,” ucap Teguh saat
ditemui di kantornya, Selasa (03/03/2026).

Strategi
Khusus

Kepadatan
arus logistik jelang Lebaran mendorong ALFI Jawa Timur (Jatim) menyiapkan
strategi khusus. Salah satunya, pengalihan storage ekspor untuk menampung
sementara impor di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.

Ketua ALFI
Jatim, Sebastian Wibisono, saat dihubungi, Selasa (03/03/2026), mengatakan
menjelang Lebaran lonjakan arus logistik memang tidak bisa dihindari. Dia
memprediksi volume arus logistik Lebaran bakal meningkat 80 persen. Apalagi
Surabaya selama ini kerap menjadi jalur transit ke wilayah Timur. Aktivitas
bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Perak diperkirakan Kembali normal setelah
April.

“Kebetulan
Nataru, Imlek dan Idulfitri waktunya bersamaan, sehingga load-nya memang
tinggi. Pas Imlek banyak impor turun ke sini, terus didistribusikan ke wilayah
seperti Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan,” papar Wibi, sapaan
akrabnya.

Untuk
mengantisipasi penumpukan, ALFI Jatim menerapkan strategi pengalihan lokasi.
Gudang yang biasanya digunakan untuk ekspor bakal dimanfaatkan sementara untuk
menampung barang impor. Semua itu dilakukan setelah koordinasi dan izin Bea
Cukai agar arus logistik tetap lancar.

“Setiap
tahun selalu ada migrasi antarterminal, terutama untuk kontainer ekspor-impor.
Di sini ada dua terminal utama, Terminal Teluk Lamong dan Terminal Petikemas
Surabaya,” ujar dia.

Wibi
membeberkan lonjakan arus logistik tahun lalu mencapai 103 persen. Namun, masih
bisa diantisipasi dengan memindahkan kontainer ke storage domestik maupun depo
yang beroperasi selama 24 jam tanpa henti.

Lebih
jauh, dia menilai pelabuhan-pelabuhan seperti Tanjung Mas dan Tanjung Perak
perlu peningkatan infrastruktur seperti diperluas lahannya agar penyandaran
kapal bisa lebih banyak.

Hal serupa
juga menjadi perhatian ALFI Jateng. Teguh 
menekankan pentingnya perbaikan infrastruktur secara menyeluruh,
termasuk fasilitas akses jalan dan depo kontainer agar operasional logistik di
Pelabuhan Tanjung Emas lebih lancar.

ALFI
Jateng menyoroti peran pemerintah provinsi dalam mendukung investasi tidak
hanya dari sisi penanaman modal, tetapi juga memastikan manajemen rantai pasok
yang perlu diperhatikan. Langkah ini semata-mata menciptakan alur bongkar muat
yang terkontrol, mengurangi antrean kontainer dan barang keluar masuk pelabuhan
tanpa hambatan.

“Jangan
hanya memberikan suatu kemudahan investasi tanpa memikirkan manajemen supply
chain
. Jangan sampai investor bingung saat mengirim barang setelah produksi
selesai,” tandasnya.

Antisipasi

Mengantisipasi
peningkatan arus logistik jelang lebaran 2026, PT Pelindo Terminal Petikemas
mengaku telah melakukan persiapan di sejumlah terminal yang dikelola. Corporate
Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas Widyaswendra mengatakan dengan sistem
operasi terminal yang digunakan saat ini pihaknya dapat merencanakan pelayanan
bongkar muat kapal peti kemas sejak jauh-jauh hari. Terminal dapat memprediksi
tingkat kepadatan tambatan di dermaga (berth occupancy ratio) juga
tingkat kepadatan lapangan penumpukan peti kemas (yard occupancy ratio).

“Kami
melakukan antisipasi sejak awal, terutama untuk lapangan penumpukan agar lebih
optimal dalam menampung peti kemas, karena kurang lebih selama 16 hari peti
kemas ini akan berada di dalam terminal dengan adanya pembatasan angkutan
barang,” kata Widyaswendra.

Pengelola
terminal bersama pemangku kepentingan juga menyiapkan lokasi overbrengen
(pindah lokasi penumpukan) sebagai cara untuk mengurai kepadatan di dalam area
terminal. Langkah ini dilakukan agar kegiatan bongkar muat di dalam terminal
peti kemas dapat berjalan dengan lancar.

Selama
libur lebaran, operasional terminal peti kemas disebut tetap berlangsung penuh
selama 24 jam dalam 7 hari. Kegiatan pelayanan tetap berlangsung sesuai dengan
jadwal dan perencanaan yang dilakukan.

“Kami
menghimbau kepada para pengguna jasa untuk memanfaatkan layanan terminal
booking system untuk meminimalkan kepadatan dan terjadinya kemacetan di jalan
raya saat akan melakukan pengiriman maupun pengambilan peti kemas sebelum libur
dan setelah libur lebaran,” serunya.

Peningkatan
Perdagangan

Ketua
Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jawa Tengah, Frans Kongi, menilai
peningkatan aktivitas ekspor-impor di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang menjadi
sinyal membaiknya perputaran ekonomi. Volume bongkar muat tercatat naik seiring
meningkatnya konsumsi masyarakat saat Imlek dan berlanjut menjelang Lebaran.

Menurutnya,
volume bongkar muat tersebut diperkirakan naik sekitar 20 persen dibanding hari
biasa. Bahkan nanti sekitar 10 hari sebelum Lebaran, lonjakan aktivitas bongkar
muat bisa menyentuh kisaran 25 persen.

“Sejak
Desember sudah terlihat ada peningkatan aktivitas bongkar muat di sana. Ini
akan terus meningkat mendekati lebaran dengan kenaikan sekitar 25 persen
dibanding hari biasa,” ucap Frans.

Menurut
Frans, komoditas yang mendominasi peningkatan arus barang adalah kebutuhan
konsumsi musiman, mulai dari bahan pangan produk fesyen dan perlengkapan
lebaran idulfitri lainnya. Dampaknya cukup positif untuk UMKM maupun ritel
karena perputaran uang berlangsung lebih cepat.

Sejauh
ini, Frans belum mendapat laporan dari anggota Apindo Jateng soal adanya
antrean karena penumpukan aktivitas bongkar muat. Dia menilai operasional
pelabuhan relatif lancar, sebab Pelindo Terminal Petikemas memiliki pengalaman
saat menangani peningkatan arus barang tersebut.

Frans
memprediksi pertumbuhan ekonomi di Jateng hingga Lebaran mendatang menunjukkan
tren positif. Konsumsi domestik menjadi penopang utama yang mendorong laju
perputaran ekonomi.

Bahkan dia
memperkirakan laju pertumbuhan ekonomi mendekati 5,7 persen atau lebih tinggi
dibandingkan hari-hari biasa yang berkisar 5,1 hingga 5,2 persen.

“Kondisi
ekonomi setelah Lebaran masih tanda tanya besar. Dalam situasi sekarang, faktor
geopolitik dan kebijakan tarif Presiden Trump itu yang membuat kondisi ke depan
belum bisa dipastikan,” tandasnya. (BC)

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES