Jakarta, 11 April 2026 – Di tengah dinamika industri pembiayaan yang menunjukkan peningkatan risiko kredit dalam beberapa waktu terakhir, PT BRI Multifinance Indonesia (“BRI Finance”) tetap mampu menjaga kualitas portofolio pembiayaannya secara solid. Hingga Februari 2026, rasio non-performing financing (NPF) Perseroan tercatat sebesar 2,23%, berada pada level yang sehat dan di bawah ambang batas yang ditetapkan regulator.
Direktur Utama BRI Finance, Wahyudi Darmawan, menyampaikan bahwa capaian tersebut mencerminkan konsistensi Perseroan dalam menerapkan prinsip kehati-hatian serta penguatan manajemen risiko secara berkelanjutan.
“BRI Finance secara disiplin menerapkan prinsip kehati-hatian dalam setiap proses penyaluran pembiayaan, mulai dari seleksi debitur, analisis kelayakan, hingga penguatan monitoring portofolio secara berkala,” ujar Wahyudi.
Perseroan juga terus mengoptimalkan fungsi collection serta meningkatkan intensitas pemantauan pembayaran untuk mengantisipasi potensi pembiayaan bermasalah sejak dini. Langkah ini menjadi bagian dari strategi menjaga kualitas aset sekaligus memastikan kinerja tetap terjaga di tengah tantangan eksternal.
Sejalan dengan itu, BRI Finance mencermati bahwa industri pembiayaan secara umum menghadapi tekanan terhadap kualitas pembiayaan, yang tercermin dari tren peningkatan rasio pembiayaan bermasalah dalam beberapa bulan terakhir berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan. Kondisi ini mendorong pelaku industri untuk semakin selektif dalam menyalurkan pembiayaan serta memperkuat pengelolaan risiko.
“Kondisi tersebut berpotensi berdampak pada peningkatan biaya pencadangan serta mendorong industri untuk lebih berhati-hati dalam melakukan ekspansi, dengan tetap berfokus pada kualitas portofolio,” jelas Wahyudi.
Meski demikian, BRI Finance tetap melihat peluang pertumbuhan yang positif. Penyaluran pembiayaan baru pada awal tahun 2026 masih menunjukkan tren yang terjaga, meskipun dilakukan secara lebih selektif dengan mempertimbangkan kondisi daya beli masyarakat dan profil risiko debitur.
Hal ini sejalan dengan perkembangan industri yang tetap mencatat aktivitas pembiayaan, didukung oleh perbaikan aktivitas ekonomi dan kinerja sektor otomotif. Dalam konteks tersebut, pelaku industri cenderung menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan kualitas aset.
“Dengan penerapan manajemen risiko yang prudent serta penguatan monitoring dan collection, kami optimistis industri multifinance tetap memiliki ruang untuk tumbuh secara sehat dan berkelanjutan,” tutup Wahyudi.
Press Release juga sudah tayang di VRITIMES
You may also like
-
Gedung Baru Kedutaan Besar India di Jakarta Akan Mulai Beroperasi September, Tandai Babak Baru Hubungan Bilateral
-
Kedutaan Besar India Rayakan Hari Kemerdekaan India ke-80 di Jakarta dengan Pengibaran Bendera, Pertunjukan Budaya, dan Momentum Baru Hubungan Bilateral
-
Dukung Kawasan Hijau, Pelindo Tanam 600 Pohon di Coastal Area Karimun
-
Perkuat Sektor E-KYC, Api.co.id Rilis API Dukcapil Check dan NPWP Check
-
Dukung Pertamina Patra Niaga, Elnusa Petrofin Percepat Distribusi Energi Pascabencana Gempa Nusa Tenggara Timur
Gedung Baru Kedutaan Besar India di Jakarta Akan Mulai Beroperasi September, Tandai Babak Baru Hubungan Bilateral
Kedutaan Besar India Rayakan Hari Kemerdekaan India ke-80 di Jakarta dengan Pengibaran Bendera, Pertunjukan Budaya, dan Momentum Baru Hubungan Bilateral
Adera Team: Essential Care Tips for Bedridden Patients