Kerja sama FisTx Indonesia dan Pak Gharo Agri & Livestock Farms hadirkan lima solusi akuakultur terintegrasi, dari teknologi sterilisasi air hingga pendampingan lapangan, untuk mendukung budidaya berkelanjutan di kawasan.
YOGYAKARTA, 2026 — Pelaku industri akuakultur di Pakistan, dan kawasan Asia Selatan serta Timur Tengah pada umumnya, selama ini menghadapi tantangan serupa: kualitas air tambak yang sulit dijaga, biaya disinfeksi kimia yang terus naik, hingga serangan patogen yang kerap kambuh. Menjawab kebutuhan tersebut, Pak Gharo Agri & Livestock Farms (PGA&LF), perusahaan konsultan dan pengembang proyek akuakultur komersial asal Pakistan, resmi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan PT Aditya Inovasi Makmur (FisTx), perusahaan teknologi akuakultur asal Yogyakarta, Indonesia.
Melalui kerja sama ini, Pak Gharo ditetapkan sebagai Perwakilan Resmi dan Distributor Eksklusif FisTx, sehingga pelaku usaha, investor, hingga institusi pemerintah di kawasan tersebut kini dapat mengakses satu paket solusi akuakultur paling lengkap dari Indonesia, tanpa perlu mencari teknologi dari banyak vendor berbeda.
“Sektor akuakultur di kawasan kami membutuhkan solusi biosekuriti yang teruji di lapangan, bukan sekadar produk tunggal. Kelengkapan solusi FisTx — mulai dari sterilisasi air hingga pendampingan teknis — melengkapi keahlian kami, dan mempercepat adopsi budidaya berkelanjutan di kawasan,” kata Arshad Aziz, CEO Pak Gharo Agri & Livestock Farms.
Kelengkapan itu tercermin dari lima solusi terintegrasi yang dibawa FisTx: Teknologi sterilisasi air, nutrisi ikan dan udang (AquaSupport), perencanaan dan konstruksi tambak modern (Aquadex), pendampingan budidaya lapangan (Program TAMPAN), serta pelatihan dan kemitraan strategis. Rangkaian ini disusun untuk menjawab siklus budidaya dari hulu ke hilir dalam satu ekosistem yang saling terhubung.
Solusi yang paling siap diadopsi lebih dulu adalah FisTx Disinfection System (FDS), sistem biosekuriti berlapis untuk air tambak yang memadukan tiga teknologi sekaligus: Baskara UV dengan sinar UV-C 253,7 nanometer untuk sterilisasi air masuk, Cakra Elektrolisis berbasis oksidasi elektrokimia dengan efektivitas 80–90 persen, dan Nano Disinfektan berbahan 150.000 ppm ion nano tembaga yang terbukti mengendalikan bakteri, virus, dan Vibrio hingga 90 persen tanpa risiko resistensi. Kombinasi tiga lapis ini dirancang menekan biaya operasional sekaligus menghilangkan residu berbahaya yang selama ini menyertai disinfeksi berbasis kaporit.
“Kami merancang FisTx sebagai satu ekosistem solusi, bukan produk yang berdiri sendiri. Kemitraan dengan Pak Gharo memastikan pendekatan lengkap ini dapat diterapkan langsung oleh pelaku budidaya di Pakistan, Asia Selatan, dan Timur Tengah,” ujar Rico Wisnu Wibisono, Founder & CEO FisTx.
Setelah lima tahun beroperasi di 25 provinsi Indonesia serta hadir di Kuwait, Timor-Leste, dan Bahrain, FisTx mencatat lebih dari 40.000 produk terdistribusi dan peningkatan keberhasilan budidaya hingga 83,6 persen di antara penggunanya. Kedua pihak akan menyusun Perjanjian Kemitraan yang mengikat dalam 90 hari, mencakup indikator kinerja terukur dan tinjauan bersama setiap triwulan, sebagai landasan penerapan solusi ini secara bertahap di kawasan.
Press Release juga sudah tayang di VRITIMES
You may also like
-
Holding Perkebunan Nusantara Turut Pantau Penguatan Operasional 10.070 Koperasi Desa Merah Putih
-
Harga Minyak WTI Berpeluang Menguat, Dupoin Futures Pantau Risiko Pasokan
-
XAUUSD Berpeluang Turun ke US$4.125, Ini Proyeksi Dupoin Futures
-
BRI Finance Perkuat Strategi Bisnis di Tengah Penyesuaian Proyeksi Pertumbuhan Industri Multifinance
-
Kinerja Stabil, BRI Finance Raih Penghargaan Best SOE 2026 dari The Asian Post
The Future of HR Is Here: 4th HR e-Knowledge Summit 2026 Challenges Philippine Organizations to Lead the AI Revolution
The Hidden Cost of SaaS Link Building: Why Direct Specialists Can Cut Costs
Holding Perkebunan Nusantara Turut Pantau Penguatan Operasional 10.070 Koperasi Desa Merah Putih