Cara kerja pencarian digital tengah mengalami transformasi besar. Avonetiq memperkenalkan metode OMG (Optimize → Manifest → Generative), sebuah pendekatan strategis yang dirancang agar brand tidak hanya muncul di pencarian, tetapi dipilih dan dikutip oleh Google AI Overviews serta mesin jawaban berbasis AI.
Cara kerja pencarian digital tengah mengalami transformasi besar. Pengguna internet kini semakin sering mendapatkan jawaban langsung dari mesin pencari berbasis kecerdasan buatan, alih-alih mengklik daftar tautan hasil pencarian tradisional.
Perubahan ini berdampak langsung pada perilaku pengguna. Pew Research Center (2025) mencatat bahwa ketika AI Overview muncul di hasil pencarian, pengguna hanya melakukan klik tautan tradisional sekitar 8% kunjungan, dibandingkan 15% pada pencarian tanpa AI Overview. Artinya, nilai strategis peringkat teratas di mesin pencari menurun hampir 50%.
“Selama ini brand berlomba-lomba mengejar peringkat. Padahal sekarang, meskipun berada di posisi teratas, belum tentu dilihat, apalagi dipilih,” ujar Alexandro Wibowo, Co-Founder & Managing Partner Avonetiq.
Situasi ini menciptakan risiko baru bagi brand: Jika tidak menjadi sumber yang dipercaya AI, maka brand berpotensi tidak terlihat sama sekali.
Menjawab tantangan tersebut, Avonetiq, Digital Authority Firm asal Indonesia, memperkenalkan metode OMG (Optimize → Manifest → Generative), sebuah pendekatan strategis yang dirancang agar brand tidak hanya muncul di pencarian, tetapi dipilih dan dikutip oleh Google AI Overviews serta mesin jawaban berbasis AI lainnya.
Apa Itu Metode OMG dari Avonetiq?
Metode OMG adalah kerangka kerja terstruktur yang dirancang oleh Alexandro Wibowo, Co-Founder & Managing Partner Avonetiq, untuk membangun otoritas digital di era answer engine:
1. Optimize
Membangun pondasi teknis dan struktur data agar brand dapat dibaca dan dipahami secara akurat oleh sistem AI, mulai dari data, struktur, hingga sinyal kredibilitas digital.
2. Manifest
Berfokus pada pembuatan konten answer-ready yang secara langsung menjawab pertanyaan audiens, sehingga berpeluang besar dikutip sebagai sumber jawaban AI
3. Generative
Membangun bukti eksternal melalui publikasi media, data orisinal, dan validasi pihak ketiga agar AI memprioritaskan brand sebagai rujukan utama.
“AI nggak nilai siapa yang paling ramai, tapi siapa yang paling jelas, konsisten, dan bisa diverifikasi. Konten dan sumber eksternal harus dirancang untuk menjawab pertanyaan secara eksplisit agar masuk di jawaban AI,” jelas Alexandro.
Press Release juga sudah tayang di VRITIMES
You may also like
-
Selamat Hari Raya Deepavali dari Sanct Social: Episode 9 Pertemukan Dua Ibu yang Belum Pernah Bertemu dalam Satu Percakapan, Sekaligus Panduan Fitur Baru Versi 1.2
-
Tips agar Pembalut Tidak Bergeser Saat Tidur Semalaman
-
Transaksi Derivatif Aset Keuangan Digital di Indonesia Tumbuh, Bittime Soroti Perkembangan Pasar
-
Bukan Hanya Merek, Ini Faktor yang Memengaruhi Nilai Gadai Jam Tangan Mewah
-
Jakarta, Indonesia Bioluminesensi Nusantara: Fuguku Luncurkan “Nudi Series” yang Skulptural dan Bawa Streetwear Bertekstur Uniseks ke USS 2026
Sanct Social sets its ninth short film in a Johor Bahru home on Deepavali eve and uses it to teach four new features: Sancty’s schedule, community guest links, sleep music and Re-live
Happy Deepavali from Sanct Social: the app’s ninth short film brings two mothers who have never met into one chat, and shows what is new in version 1.2
Selamat Hari Raya Deepavali dari Sanct Social: Episode 9 Pertemukan Dua Ibu yang Belum Pernah Bertemu dalam Satu Percakapan, Sekaligus Panduan Fitur Baru Versi 1.2