Pemetaan lahan di perkebunan kelapa sawit skala besar menghadapi tantangan teknis yang tidak bisa diselesaikan dengan foto udara konvensional.
Kanopi sawit dewasa menutup permukaan tanah dari sensor kamera, sehingga data terrain yang dihasilkan hanya merekam pucuk pohon, bukan kondisi tanah yang sebenarnya.
DJI Zenmuse L3 hadir sebagai sensor LiDAR untuk survei dan pemetaan dari platform drone enterprise. Berbeda dari kamera, Zenmuse L3 menembakkan laser pulse pada frekuensi 350 kHz dan merekam multiple return per pulse, termasuk sinyal yang menembus celah antar pelepah sawit hingga menyentuh permukaan tanah di bawahnya.
Dikembangkan oleh DJI Enterprise, Zenmuse L3 menggabungkan sistem pemindaian laser beresolusi tinggi dengan koreksi IMU terintegrasi. Sensor ini menghasilkan point cloud 3D yang merepresentasikan kondisi terrain secara akurat, dari lapisan kanopi hingga permukaan bare-earth, dalam satu penerbangan.
Di Indonesia, Halo Robotics menyediakan Zenmuse L3 sebagai bagian dari solusi LiDAR survey untuk kebutuhan pemetaan di sektor perkebunan, pertambangan, dan kehutanan. Sistem ini dioperasikan menggunakan drone DJI Matrice 400 dengan DJI D-RTK 3 sebagai ground station untuk koreksi GNSS differential secara real-time, serta pemrosesan point cloud menggunakan Terrasolid.
“Zenmuse L3 berhasil memetakan 1.306 hektar di lahan produksi aktif dalam 138 menit waktu terbang efektif, dengan akurasi horizontal dan vertikal 4 cm. Data yang dihasilkan langsung siap digunakan untuk analisis drainase dan pemetaan kontur,” ujar Halo Robotics.
Output LiDAR survey mencakup tiga file survey-grade:
1. Point Cloud (.las) untuk data 3D lengkap dari kanopi hingga tanah
2. Digital Surface Model (.tif) untuk elevasi permukaan termasuk vegetasi
3. Digital Terrain Model (.tif) untuk elevasi bare-earth yang digunakan dalam analisis drainase dan pemetaan kontur.
Seluruh file sudah ter-georeferensi dan kompatibel langsung dengan workflow GIS standar.
Penggunaan LiDAR drone seperti DJI Zenmuse L3 menunjukkan cara industri perkebunan mengelola data terrain skala besar secara lebih terukur. Data bare-earth dengan akurasi centimeter membuka peluang bagi pengelola kebun untuk mengambil keputusan operasional berbasis data, dari perencanaan drainase hingga monitoring topografi jangka panjang, tanpa bergantung pada metode survei konvensional yang membutuhkan waktu lebih lama.
Press Release juga sudah tayang di VRITIMES
You may also like
-
Gedung Baru Kedutaan Besar India di Jakarta Akan Mulai Beroperasi September, Tandai Babak Baru Hubungan Bilateral
-
Kedutaan Besar India Rayakan Hari Kemerdekaan India ke-80 di Jakarta dengan Pengibaran Bendera, Pertunjukan Budaya, dan Momentum Baru Hubungan Bilateral
-
Dukung Kawasan Hijau, Pelindo Tanam 600 Pohon di Coastal Area Karimun
-
Perkuat Sektor E-KYC, Api.co.id Rilis API Dukcapil Check dan NPWP Check
-
Dukung Pertamina Patra Niaga, Elnusa Petrofin Percepat Distribusi Energi Pascabencana Gempa Nusa Tenggara Timur
Gedung Baru Kedutaan Besar India di Jakarta Akan Mulai Beroperasi September, Tandai Babak Baru Hubungan Bilateral
Kedutaan Besar India Rayakan Hari Kemerdekaan India ke-80 di Jakarta dengan Pengibaran Bendera, Pertunjukan Budaya, dan Momentum Baru Hubungan Bilateral
Adera Team: Essential Care Tips for Bedridden Patients