Revola Jateng dan Optimalisasi Lahan Tidur: Kolaborasi Generasi Muda dan Senior di Sektor Pertanian

Menghidupkan Kembali Lahan yang Terlantar

Di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, sebuah lahan seluas 10 hektare yang selama 12 tahun tidak dikerjakan apa-apa kini kembali produktif. Lahan bekas Perkebunan Inti Rakyat (PIR) lokal teh itu menjadi pilot project program Revolusi Lahan (Revola) Jawa Tengah. Yang menarik, program ini melibatkan kolaborasi lintas generasi: petani senior menangani pengolahan lahan, sementara generasi milenial mengoperasikan teknologi smart farming.

Integrated Smart Farming: Pendekatan Terpadu

Revola Jateng mengoptimalkan lahan dengan sistem integrated smart farming atau pertanian terpadu berbasis teknologi. Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, menjelaskan bahwa operasionalnya melibatkan generasi milenial yang berkolaborasi dengan generasi senior. “Petani generasi tua lebih pada pengolahan lahan, sedangkan generasi muda menangani teknis yang berkaitan dengan teknologi smart farming, seperti drop irrigation, drone, alat pendeteksi kelembaban tanah dan air,” ujarnya.

Pembagian Zona dan Komoditas

Optimalisasi lahan dilakukan secara berlevel. Lahan seluas kurang lebih dua hektare ditanami alpukat dan kopi. Lahan kurang dari setengah hektare digunakan untuk peternakan ayam dan kambing. Ada juga lahan untuk tanaman hortikultura seperti cabai, pisang, dan terong, serta lahan untuk jagung dan padi.

Dampak Sosial-Ekonomi: 625 Kepala Keluarga Naik Kelas

Program Revola Jateng telah memberikan dampak langsung kepada 625 kepala keluarga di Kabupaten Banjarnegara. Nilai produksi dari lahan tersebut diperkirakan mencapai sekitar Rp1,9 miliar. Bupati Banjarnegara bahkan membidik lokasi tersebut menjadi kawasan agrowisata. “Ada 625 KK miskin yang terlibat di daerah itu, dan kita harapkan bisa naik kelas menjadi tidak miskin,” jelas Frans.

Peran Teknologi dalam Optimalisasi Lahan Tidur

Teknologi yang digunakan dalam Revola Jateng mencakup irigasi tetes (drop irrigation), drone untuk pemantauan dan penyemprotan, serta alat pendeteksi kelembaban tanah dan air. Kombinasi ini memungkinkan pengelolaan lahan yang efisien meskipun sumber daya air terbatas. Generasi muda yang terlibat dalam program ini tidak hanya menjadi operator teknologi, tetapi juga agen perubahan yang membawa semangat inovasi ke desa.

Replikasi ke Daerah Lain

Setelah pilot project di Banjarnegara, program Revola Jateng akan dikembangkan di beberapa daerah lain. Batang dan Pekalongan menjadi sasaran berikutnya karena memiliki eks lahan PIR yang serupa. “Sudah ada beberapa daerah yang mengajukan, ke depan akan kami coba arahkan ke daerah-daerah lain,” tandas Frans.