JAKARTA — Sesi penutup hari pertama menghadirkan IEF Talks Panel 3 bertema “Innovate to Integrate: New Tech for a New Network” di ARTOTEL Suites Mangkuluhur, Jakarta. Diskusi menekankan keseimbangan antara teknologi, regulasi, dan sumber daya manusia.
Pemerintah pilih ‘sequence over speed’
Keynote pertama disampaikan oleh Dr. Sonny Sudaryana (Kementerian Komunikasi dan Digital). “Indonesia tidak mengejar pertumbuhan cepat dengan segala risiko. Kami memilih pertumbuhan yang terstruktur dan berkelanjutan,” katanya.
Ia menjelaskan kerangka 6C: Connectivity, Capital, Competency, Commerce, Compliance, dan Catalyst. “Digitalisasi harus menciptakan nilai, bukan sekadar mempercepat transaksi,” ujar Sonny.
Ia juga menyoroti pentingnya UMKM. “Jika kita ingin pertumbuhan 8 persen, kita harus mendigitalkan tulang punggung ekonomi, yaitu UMKM,” tegasnya.
Manusia sebagai kunci transformasi digital
Keynote kedua dibawakan oleh Dr. Rani Burchmore (ASEAN Youth for Digital Action). “Infrastruktur penting, tetapi manusia adalah penentu keberhasilan transformasi digital,” tegas Rani.
Ia memaparkan peran ION Academy. “Kami tidak hanya melatih, tetapi mengaktifkan ekonomi melalui keterampilan digital,” katanya.
“Tujuan kami bukan sekadar sertifikat, tetapi pekerjaan nyata dan peningkatan produktivitas UMKM,” tambahnya.
Open network melawan monopoli platform
Panel dipandu oleh Nalin Singh (Orbit Future Academy) dengan panelis Balaje Rajaraman (NammaYatri), Sanjeev Gupta (Remiges), dan Ravish Sahay (SequelString). Balaje Rajaraman berbagi pengalaman India. “Melalui model open network, pengemudi kami bisa mendapat pendapatan lebih tinggi karena tidak dibebani komisi besar,” ujarnya.
“Ini membuktikan bahwa teknologi bisa berpihak pada pekerja, bukan hanya platform,” tambahnya.
Sanjeev Gupta menekankan aspek teknis ONDC. “Open network dirancang agar tak terlihat oleh pengguna akhir, tetapi bekerja sebagai infrastruktur dasar di balik layar,” jelasnya.
“Ini seperti jalan tol digital bagi perdagangan,” katanya.
Ravish Sahay menyoroti skalabilitas solusi berbasis open network. “Kami membangun aplikasi yang bisa dipakai lintas kota dan sektor, dari transportasi hingga pembayaran,” ujar Ravish.
“Model ini memberi fleksibilitas yang belum pernah ada sebelumnya,” tambahnya.
Penutup panel
Diskusi menegaskan bahwa keberhasilan ION akan bergantung pada inovasi berkelanjutan, talenta digital yang kuat, serta kolaborasi pemerintah dan swasta.
Press Release juga sudah tayang di VRITIMES
You may also like
-
Selamat Hari Raya Deepavali dari Sanct Social: Episode 9 Pertemukan Dua Ibu yang Belum Pernah Bertemu dalam Satu Percakapan, Sekaligus Panduan Fitur Baru Versi 1.2
-
Tips agar Pembalut Tidak Bergeser Saat Tidur Semalaman
-
Transaksi Derivatif Aset Keuangan Digital di Indonesia Tumbuh, Bittime Soroti Perkembangan Pasar
-
Bukan Hanya Merek, Ini Faktor yang Memengaruhi Nilai Gadai Jam Tangan Mewah
-
Jakarta, Indonesia Bioluminesensi Nusantara: Fuguku Luncurkan “Nudi Series” yang Skulptural dan Bawa Streetwear Bertekstur Uniseks ke USS 2026
Sanct Social sets its ninth short film in a Johor Bahru home on Deepavali eve and uses it to teach four new features: Sancty’s schedule, community guest links, sleep music and Re-live
Happy Deepavali from Sanct Social: the app’s ninth short film brings two mothers who have never met into one chat, and shows what is new in version 1.2
Selamat Hari Raya Deepavali dari Sanct Social: Episode 9 Pertemukan Dua Ibu yang Belum Pernah Bertemu dalam Satu Percakapan, Sekaligus Panduan Fitur Baru Versi 1.2