JAKARTA — Sesi IEF Talks Panel 2 bertema “Delivering Digital Commerce: The Logistics Layer” berlangsung di ARTOTEL Suites Mangkuluhur, Jakarta, membahas bagaimana logistik harus bertransformasi untuk mendukung ekosistem digital berbasis ION.
Tanpa logistik kuat, e-commerce tak efektif
Keynote disampaikan oleh Ratnesh Verma (Founder & CEO, PIDGE). “Digital commerce hanya akan sekuat rantai logistiknya. Jika pengiriman mahal dan lambat, manfaat e-commerce tidak akan dirasakan UMKM,” tegas Ratnesh.
Ia juga menyoroti pentingnya sistem logistik terbuka. “ION memberi peluang bagi pemain logistik kecil untuk masuk ke rantai nilai digital yang sebelumnya didominasi perusahaan besar,” katanya.
Menyatukan pemain besar dan kecil
Panel dipandu oleh Shoeb Kagda (Co-Founder IEF) dengan panelis Guruprasad Deshpande (ZAAPKO), T. Koshy (ONDC), Alfons Tefa (Automa), dan Ratnesh Verma (PIDGE). Guruprasad menekankan standar interoperabilitas. “Kita butuh bahasa data yang sama agar semua pemain logistik bisa terhubung tanpa gesekan,” ujarnya.
“Tanpa standar terbuka, integrasi akan mahal dan lambat,” tambahnya.
T. Koshy menjelaskan pelajaran dari India melalui ONDC. “ONDC menunjukkan bahwa open network bisa menurunkan biaya logistik sekaligus meningkatkan persaingan sehat,” katanya.
“Indonesia memiliki peluang besar untuk mengadaptasi model ini sesuai konteks lokal,” jelas Koshy.
Alfons Tefa menyoroti tantangan Indonesia sebagai negara kepulauan. “Last-mile delivery di daerah terpencil adalah tantangan terbesar. Kita butuh solusi berbasis komunitas, bukan hanya perusahaan besar,” ujar Alfons.
“ION harus mendorong model kolaboratif yang melibatkan kurir lokal,” tambahnya.
Kesimpulan panel
Panel menegaskan bahwa logistik bukan sekadar layanan pendukung, melainkan infrastruktur inti ekonomi digital Indonesia.
Press Release juga sudah tayang di VRITIMES
You may also like
-
DJKA dan LRT Jabodebek Periksa Kesiapan Fasilitas Sarana & Prasarana Jelang Angkutan Nataru 2026/2027
-
Selamat Hari Raya Deepavali dari Sanct Social: Episode 9 Pertemukan Dua Ibu yang Belum Pernah Bertemu dalam Satu Percakapan, Sekaligus Panduan Fitur Baru Versi 1.2
-
Tips agar Pembalut Tidak Bergeser Saat Tidur Semalaman
-
Transaksi Derivatif Aset Keuangan Digital di Indonesia Tumbuh, Bittime Soroti Perkembangan Pasar
-
Bukan Hanya Merek, Ini Faktor yang Memengaruhi Nilai Gadai Jam Tangan Mewah
DJKA dan LRT Jabodebek Periksa Kesiapan Fasilitas Sarana & Prasarana Jelang Angkutan Nataru 2026/2027
Sanct Social sets its ninth short film in a Johor Bahru home on Deepavali eve and uses it to teach four new features: Sancty’s schedule, community guest links, sleep music and Re-live
Happy Deepavali from Sanct Social: the app’s ninth short film brings two mothers who have never met into one chat, and shows what is new in version 1.2