Rumput Laut Indonesia di Persimpangan: Produsen Terbesar Kedua Dunia, Tapi Masih Ekspor Mentah

9,8 Juta Ton per Tahun, Tapi Nilai Tambahnya Hilang di Luar Negeri

Indonesia tercatat sebagai produsen rumput laut terbesar kedua dunia, dengan volume produksi pada 2024 mencapai 9,8 juta ton. Permintaan global diproyeksikan mencapai 40–43 juta ton, membuka peluang besar bagi Indonesia. Namun, hampir dua pertiga ekspor rumput laut Indonesia masih berupa bahan mentah, bukan produk olahan bernilai tinggi. Artinya, nilai tambah terbesar dinikmati oleh negara-negara pengolah seperti Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan.

57 Industri Pengolahan, Kapasitas 197.650 Ton Bahan Baku Kering

Saat ini Indonesia memiliki 57 industri pengolahan rumput laut dengan total kapasitas terpasang mencapai 197.650 ton bahan baku kering per tahun. Namun, sekitar 80 persen produk karagenan yang dihasilkan masih dalam bentuk setengah jadi atau ATC, bukan refined carrageenan yang harganya jauh lebih tinggi. Produk turunan yang dapat dikembangkan antara lain karagenan, agar, alginat, pangan fungsional, farmasi, dan kosmetik.

Luhut Dorong Hilirisasi: Belajar dari Nikel

Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan secara terbuka mendorong percepatan hilirisasi rumput laut, dengan menjadikan pengalaman hilirisasi nikel sebagai pelajaran. Ia menekankan bahwa kemitraan dengan Tiongkok—yang investasinya di Indonesia mencapai lebih dari 70 miliar dolar AS selama satu dekade terakhir—perlu diperluas dari sekadar pembangunan pabrik menjadi penelitian, pengembangan teknologi, dan peningkatan kapasitas SDM. Luhut bahkan mengajak Universitas Tsinghua membangun laboratorium bersama untuk mempercepat inovasi di sektor ini.

seaBLUE di Morotai: Ketika Nelayan Kecil Diberdayakan

Di Morotai, Maluku Utara, proyek seaBLUE yang didanai Pemerintah Jepang dan diimplementasikan UNDP bersama KKP telah memasang sistem penyimpanan dingin bertenaga surya di 17 lokasi. Setiap Rp1 yang diinvestasikan diharapkan menghasilkan sekitar Rp3 dalam pengembalian ekonomi, dengan mengurangi kerugian akibat pembusukan dan meningkatkan harga jual hasil tangkapan. Proyek ini juga mengenalkan mesin kapal listrik tenaga surya dan mendaftarkan 230 kapal nelayan kecil ke dalam sistem perizinan digital.

Sudut Pandang: Hilirisasi Bukan Sekadar Membangun Pabrik

Hilirisasi rumput laut membutuhkan ekosistem yang jauh lebih kompleks daripada sekadar mendirikan pabrik pengolahan. Dibutuhkan riset pasar, standardisasi mutu, akses pembiayaan bagi UMKM pengolah, dan yang tak kalah penting—penguasaan teknologi oleh sumber daya manusia Indonesia. Tanpa itu, hilirisasi hanya akan memindahkan ketergantungan dari ekspor bahan mentah menjadi impor teknologi pengolahan.